Kritik Anggaran Pariwisata Depok, Bang Dayat Dorong Penataan Cagar Budaya Depok Lama dan Kawasan Ikonik Kota - FPKS Depok
Logo Fraksi PKS DPRD Depok

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

DPRD Kota Depok

Kritik Anggaran Pariwisata Depok, Bang Dayat Dorong Penataan Cagar Budaya Depok Lama dan Kawasan Ikonik Kota

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

FPKS Depok – Fraksi PKS DPRD Kota Depok kembali menggelar Podcast pada hari Selasa (19 Mei 2026). Tema podcast kali ini : “Menggali Potensi Pariwisata di Kota Depok” dengan mengundang anggota Komisi B DPRD Kota Depok, Moh. Nur Hidayat sebagai narasumber.

Di awal podcast Bang Dayat (sapaan akrab Hidayat) menyampaikan tentang Komisi B yang membidangi ekonomi dan keuangan. Adapun mitranya antara lain, Disporyata, DKUM dan Koperasi, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan.

Terkait dengan pengembangan pariwisata di Kota Depok, Bang Dayat menginfokan bahwa Pemkot Depok telah mengalokasikan anggaran dalam Renja 2027. “Mau tau berapa? Nilainya cukup miris Bang, 1 miliar untuk pengembangan daya tarik destinasi wisata dan cagar budaya. Pengembangan cagar budaya 450 juta, kemudian untuk daya tarik destinasi wisata 550 juta. Bagaimana dengan anggaran tersebut mau membangun setu-setu dan heritage di Depok Lama?” tanya Bang Dayat.

Aleg dapil Sukmajaya tersebut membandingkan anggaran pariwisata itu dengan anggaran untuk program wisata keberagaman 25 juta per RW se-Kota Depok. “Jika 25 juta dikali dengan jumlah RW yang ada di Depok (930-an), maka totalnya jadi 23 miliar,” jelasnya.

Bang Dayat menambahkan, sebenarnya program (wisata keberagaman) ini bagus juga, menunjukkan Pemerintah peduli dengan masyarakatnya. “Saran saya ke depan, alangkah bagusnya jika mandatory spending ini dialihkan untuk menata kawasan destinasi wisata dan (heritage) Depok Lama, sehingga orang Depok wisatanya ke Depok, tidak perlu ke luar Depok,” tegasnya.

Pada kesempatan podcast tersebut, Bang Dayat juga bercerita tentang contoh daerah (di luar Depok) yang berhasil membangun dan mengembangkan wisatanya sehingga mampu mendatangkan wisatawan dari luar dan meningkatkan pendapatan/devisa bagi daerahnya.

Contoh pertama Kota Serang. Di Kota ini ada satu kawasan yang disebut Royal Baru. “Pemerintah di sana membangun infrastrukturnya, seperti pedestriannya, lampu penerang jalannya, dan ada bangku-bangku di pinggir jalannya. Pokoknya dibuat seperti Braga di Bandung. Royal Baru menjadi spot favorit baru untuk olahraga di Minggu pagi. Kalau mereka sebutnya itu adalah Braga-nya Serang,” imbuhnya.

Kedua, Desa Umbul Ponggok. Daerah ini sebelumnya merupakan salah desa termiskin di Klaten, Jawa Tengah karena pendapatannya yang sangat minim, 80 juta rupiah per tahun. “Tapi, kepala desanya melihat potensi dari sumber mata air di sana. Dia membikin pemetaan, perencanaan dengan menggandeng akademisi, mahasiswa UGM. Lalu, mereka membuat (proyek) swafoto di dalam kolam air, ada hiasan-hiasan sepeda dan Vespa. Dan itu menarik. Promonya dari warga dulu. Perangkat desanya membelikan kader posyandu, PKK masing-masing satu handphone untuk mempromosikan wisata air wisata tersebut. Akhirnya berhasil mendatangkan banyak wisatawan. Sekarang pendapatan daerahnya 3,9 miliar pertahun dari sebelumnya yang cuma 80 juta,” ungkap Bang Dayat.

Terkait upaya untuk membangkitkan kembali sejarah Depok Lama, Bang Dayat menyebut adanya Perda Nomor 8 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Depok 2017- 2025 yang menjadi dasar hukumnya. Di dalam Perda itu disebut tentang kawasan strategis untuk pengembangan pariwisata, yaitu di kawasan Depok Lama (Jalan Pemuda). “Depok Lama punya sejarah dimulai dari Cornelis Chastelein yang membeli tanah di sana dan mempunyai pembantu-pembantu, yang kemudian dikenal sebagai Belanda Depok. Jalan Pemuda ini bisa menjadi kawasan utama wisata di Depok. Maka harus ada penataan areanya, seperti pedestrian, area parkir, lampu penerangan, dan tempat buat UMKM-nya. Untuk itu, Pemkot Depok sudah meminta dukungan/support melalui Kementerian Kebudayaan,” imbuhnya.

Lalu, apa upaya untuk membangkitkan UMKM di Kota Depok sehingga bisa naik level ke nasional? Menjawab pertanyaan tersebut, Bang Dayat menyatakan bahwa Pemkot Depok sudah memberikan cukup perhatian terhadap UMKM. Misalnya, ada program WUB (wira usaha baru) yang sekarang berjumlah 6200 yang terdata di dashboard DKUM. “Sekarang ada program Jualan Sama-sama UMKM Naik Kelas agar para pelaku UMKM bisa naik level. Juga ada Dekranasda yang turut memasarkan produk-produk UMKM, kuliner, fashion dan lain-lain,” tutur Bang Dayat.

Bang Dayat menambahkan, para pelaku UMKM juga mengusulkan agar dibuat tempat produksi bersama untuk usaha sejenis, seperti krupuk, tas, dan manik-manik. Jadi, ada sentra-sentra produksi sekaligus juga untuk pemasarannya.

Ternyata, banyak potensi pariwisata di Depok yang bisa digali dan dikembangkan yang pada gilirannya bisa meningkatkan PAD Kota Depok, seperti potensi setu dan kawasan heritage Depok Lama. Jadi, Depok tidak melulu viral karena berita yang aneh-aneh, seperti kolor ijo, babi ngepet atau keranda terbang. Tapi, Depok bisa viral karena hal-hal positif dari keunggulan potensi alam dan keunikan sejarah serta budayanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *