RADARUPDATE.ID-Khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Penggalan hadist Nabi Muhammad SAW itu menjadi prinsip hidup bagi Bambang Sutopo seorang Politisi senior Depok.Hadist yang diriwayatkan oleh beberapa perawi, seperti Imam Ahmad, Ath-Thabari, dan Al-Qadlaa’iy menjadi motivasi baginya untuk masuk ke dunia politik.
Sebelum memulai karir politiknya, pria yang akrab disapa HBS itu mengabfikan dirinya sebagai seorang pendidik. Ia menjadi seorang guru Ngaji kampung. Dari sana, ia kemudian membuka TPQ (Taman Pendidikan Al Quran) di rumahnya.
TPQ yang dulu ia dirikan pun kini telah berkembang menjadi sekolah dan Lembaga pendidikan Formal bernama TKIT/SDIT/SMPIT/SMAIT RUHAMA.”Sejak tahun 1993, awalnya saya aktif dan terlibat mendirikan Yayasan Pendidikan dan Sosial Ruhama di Depok,” katanya.
Selain mengajar ngaji, sejak muda, HBS juga sudah aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti di masjid juga musala. Ia juga turut aktif dalam pembinaan, organisasi dan berbagai aktivitas yang dekat dengan persoalan masyarakat.
Dari sana, ia memahami bahwa banyak persoalan masyarakat tidak cukup hanya diselesaikan dengan kegiatan sosial atau bantuan sesaat.
Ada persoalan-persoalan yang membutuhkan perubahan kebijakan, regulasi, anggaran, dan keberpihakan pemerintah, dalam implementasi dan operasionalnya. Dari situlah dirinya semakin terdorong untuk masuk dalam dunia politik.
“Saya mulai tergerak untuk masuk dalam dunia politik untuk memperjuangkan itu semua,”tuturnya.
Pada awal masa Reformasi tahun 1998, jalan itu terbuka. Ia dipercaya untuk mengemban amanah politik. Saat itu, ia ditunjuk untuk menjadi Ketua DPC PK ( Dewan Pimpinan Cabang Partai Keadilan Kecamatan) Sukmajaya.
Masa Itu adalah satu perjalanan awal yang sangat penting baginya untuk bisa masuk dunia politik untuk memperjuangkan apa yang diyakininya.
Masih jelas dalam ingatanya, saat itu pemilu 1999. Ketika itu dirinya terpilih menjadi bagian dari perjuangan politik di Depok. Ia dipercaya menjadi Anggota DPRD Kota Depok periode 1999–2004.
“Pada masa awal perkembangan Kota Depok,” tuturnya.
Setelah itu, perjalanan politik berikutnya membawanya ke berbagai amanah lainnya ia pernah mengabdi sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah 2009-2014. Lalu menjadi Tenaga Ahli DPR RI FPKS 2015-2023, Pengurus BP3 DPP PKS 2014-2024 di Bidang Pemenangan Pemilu dan Pilkada.
“Perjalanan tersebut tentu penuh dinamika dan menjadi sekolah kehidupan yang sangat berharga dalam dunia Politik bagi saya,” tuturnya.
Ia mengatakan baginya politik bukan tujuan akhir. Politik adalah salah satu instrumen perjuangan untuk menghadirkan perubahan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Ia mengatakan sejumlah faktor yang mendorongd dirinya terjun di dunia politik adalah keinginan untuk ikut memberikan kontribusi nyata dan solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat secara lebih luas dan sistematis.
“ketika kita berada di tengah masyarakat, kita sering melihat persoalan yang berulang. Jalan rusak, banjir, pendidikan yang mahal, pengangguran, pelayanan kesehatan, persoalan sampah, tata ruang, kemacetan, hingga kesenjangan sosial,” ujar pria yang juga pernah menjadi marbot masjid itu.
“Kita bisa membantu satu atau dua orang secara langsung. Tetapi ketika kita ingin menyelesaikan persoalan dalam skala yang lebih luas, maka kita membutuhkan kebijakan dan regulasi yang harus dibuat dan ditetapkan berupa Peraturan Daerah, dan lainya,” tambahnya.
Dari sanalah dia memahami pentingnya politik. Ia melihat politik seharusnya bukan sekadar tentang jabatan atau kekuasaan. Politik harus menjadi jalan pengabdian. Kekuasaan harus digunakan untuk menghadirkan manfaat, dan jabatan harus menjadi sarana untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
Karena itu, dirinya berusaha memegang prinsip pribadi, HBS: Humble, Berani, Solutif
Humble.
Ia menjabarkan humble yang dimaksud adalah seorang pemimpin tidak boleh jauh dari rakyat. Lalu,berani, karena memperjuangkan kebenaran dan kepentingan masyarakat terkadang membutuhkan keberanian dan solutif, karena masyarakat tidak cukup hanya diberikan janji atau kata-kata semata.
Dari Marbot Hingga Legislatif
Perjalanan panjang dilalui oleh HBS. Pria kelahiran Semarang, 7 Mei 1967 terlahir dari keluarga sederhana. Bambang lahir dan tumbuh di Semarang.
Ia pun pernah menjadi seorang Marbot juga James Bon (jaga Masjid dan Kebon). Itu terjadi saat ia mengenyam bangku kuliah. Ia merantau ke Jakarta untuk kuliah.
“Waktu kuliah itu jadi Marbotdi daerah Pasar Minggu Jakarta,” tuturnya.
Berbagai momen pun pernah ia lewati hingga kini dikenal sebagai politisi senior PKS. Ia menyadari kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Ada masa ketika dirinya berada di atas, ada masa ketika smeua harus memulai kembali dari bawah. Ada keberhasilan, tetapi juga ada kekecewaan dan kegagalan.
“Namun saya percaya bahwa setiap fase kehidupan memiliki hikmahnya,” tuturnya.
Ia mengisahkan dirinya pernah mengabdi sebagai Anggota DPRD Kota Depok pada periode awal perjalanan Kota Depok. Setelah itu, perjalanan hidup membawanya ke Jawa Tengah dan di sana ia juga mendapatkan amanah sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah.
Setelah menjalankan berbagai amanah politik, iapun juga banyak berkegiatan dalam dunia pendidikan dan pengabdian.
Dunia pendidikan menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupnya. HBS terus berproses dan meyakini bahwa perubahan bangsa tidak bisa hanya dilakukan melalui politik saja. Perubahan jangka panjang harus dimulai dari pendidikan dan pembentukan generasi.
“Karena itu, saya terus berusaha berkontribusi dalam pengembangan pendidikan melalui Yayasan Pendidikan Ruhama dan Sekolah Islam Terpadu Ruhama, sebagai bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi masa depan, dan saya juga menjadi Dosen S2 Manajemen Pendidikan Islam Al Qudwah Depok,” tuturnya.
Kemudian, perjalanan politik membawa dirinya kembali ke Kota Depok. Setelah sekian lama menjalani berbagai amanah di tempat lain, ia kembali mendapatkan tugas untuk mengabdi kepada masyarakat Depok.
“Hari ini, saya kembali menjadi Anggota DPRD Kota Depok periode 2024–2029.Bagi saya, ini bukan sekadar kembali ke sebuah jabatan. Ini seperti kembali ke rumah perjuangan. Karena Depok adalah salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup dan perjuangan saya,” ujarnya.
Namun kata dia, menjadi politikus dan anggota dewan tentu ada suka dan dukanya.
BHS menjabarkan, sukanya, saat dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dan mendengarkan langsung kehidupan masyarakat.
Dirinya bisa datang ke kampung-kampung, bertemu warga, berdiskusi dengan anak muda, guru, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, dan berbagai kelompok lainnya.
Dari sana, ada kebahagiaan tersendiri ketika sebuah aspirasi masyarakat yang ia perjuangkan akhirnya mendapatkan solusi.
Misalnya, ketika warga menyampaikan persoalan infrastruktur, drainase, pendidikan, lingkungan, atau pelayanan publik, kemudian kita bisa membawa persoalan tersebut ke dalam rapat, pengawasan, pembahasan anggaran, atau kebijakan pemerintah.
“Ketika ada perubahan, sekecil apa pun, dan bisa terealisasi dan terwujud aspirasi tersebut, serta memberikan manfaat kepada masyarakat, di situlah salah satu kebahagiaan terbesar seorang anggota dewan,” tuturnya.
Tetapi, kata dia, tentu ada dukanya. Masyarakat kadang melihat anggota dewan sebagai pihak yang bisa menyelesaikan semua persoalan. Padahal, dalam sistem pemerintahan, anggota DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.
Sehingga tidak semua persoalan bisa langsung diselesaikan oleh seorang anggota dewan. Dewan bukan eksekutif atau eksekutor atas berbagai Rencana Program dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Kadang kita sudah memperjuangkan sebuah aspirasi, tetapi proses birokrasi membutuhkan waktu. Kadang sebuah usulan belum bisa diakomodasi karena keterbatasan anggaran. Kadang pula kita harus menghadapi kritik yang sangat keras,” imbuhnya.
Tetapi ia memandang kritik sebagai bagian dari demokrasi. Seorang politisi harus siap dikritik. Yang penting adalah tetap menjaga integritas, tetap dekat dengan masyarakat, dan tidak berhenti bekerja.
Baginya, tantangan terbesar menjadi politisi adalah menjaga idealisme di tengah realitas politik. Tetap harus rendah hati ketika memiliki jabatan. Tetap harus berani ketika melihat sesuatu yang tidak berpihak kepada rakyat.
“Dan tetap harus mencari solusi ketika masyarakat datang membawa persoalan. Karena pada akhirnya, jabatan itu adalah amanah dan tidak abadi,” tuturnya.
Iapun menegaskan, masa jabatan akan selesai.Kekuasaan akan berganti.Tetapi yang akan tetap dikenang adalah apa manfaat yang sudah diberikan bagi masyarakat.
“Itulah pertanyaan yang selalu saya coba jawab dalam perjalanan hidup dan perjuangan saya. Saya ingin ketika suatu saat nanti amanah ini selesai, masyarakat tidak hanya mengenal saya sebagai seorang politikus atau anggota DPRD,” ujarnya.
“Tetapi mereka bisa mengatakan, saya pernah datang, mau mendengar, berani memperjuangkan, dan berusaha memberikan solusi,” tambahnya
“Karena bagi saya, pada akhirnya politik bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang kita miliki.Politik adalah tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita tinggalkan (Legacy) dan akan dikenang sebagai apa ketika kita wafat,” tutupnya. ( FAJ)
Sumber: https://www.radarupdate.id/aglomerasi/105317603492/lebih-dekat-dengan-sosok-hbs-guru-ngaji-kampung-yang-kini-jadi-politisi-senior-depok?page=4