Kebakaran TPA Cipayung Jadi Alarm Darurat Sampah Depok, HBS: Jangan Padam Bersama Apinya - FPKS Depok
Logo Fraksi PKS DPRD Depok

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

DPRD Kota Depok

Kebakaran TPA Cipayung Jadi Alarm Darurat Sampah Depok, HBS: Jangan Padam Bersama Apinya

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

DEPOK | VOA Depok – Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kota Depok untuk segera mempercepat pembenahan sistem pengelolaan sampah.

Anggota Komisi C DPRD Kota Depok, Dr. H. Bambang Sutopo (HBS), menilai kejadian tersebut bukan sekedar musibah, melainkan alarm serius yang menunjukkan persoalan persampahan di Kota Depok sudah berada pada titik yang membutuhkan penanganan luar biasa.

Menurut HBS, keberhasilan petugas mengeluarkan api patut diapresiasi. Namun, perhatian pemerintah tidak boleh berhenti pada penanganan kebakaran semata, melainkan harus menyentuh akar permasalahan yang selama ini terletak di TPA Cipayung.

“Kami mengapresiasi gerak cepat petugas Damkar, DLHK, Satpol PP, dan seluruh pihak yang berhasil mengendalikan kebakaran di TPA Cipayung dalam waktu yang relatif singkat sehingga api tidak meluas dan tidak menimbulkan korban jiwa,” kata HBS, Jumat (17/7/2026).

Ia menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di Kota Depok.

Namun demikian, kebakaran ini harus menjadi alarm serius bagi Pemerintah Kota Depok bahwa permasalahan sampah dan pengelolaan TPA Cipayung sudah berada pada kondisi yang memerlukan perhatian luar biasa.Jangan sampai kita hanya fokus pada emisi api, tetapi tidak menyelesaikan akar permasalahannya,ujarnya.

Volume Sampah Terus Meningkat

HBS menjelaskan, TPA Cipayung saat ini menanggung beban yang sangat berat. Setiap hari, sekitar 1.300 ton sampah masuk ke lokasi tersebut, sementara akumulasi timbunan sampah diperkirakan telah mencapai sekitar 2 juta ton dengan ketinggian mencapai 20 hingga 30 meter.

Kondisi itu, menurutnya, membuat potensi kebakaran selalu mengintai, terutama saat cuaca panas maupun akibat akumulasi gas metana yang terbentuk dari proses komunikasi sampah.

“Dengan volume sampah yang terus masuk setiap hari dan timbunan sampah yang semakin besar, risiko kebakaran akibat cuaca panas, gas metana, maupun faktor lainnya akan selalu ada jika tidak diantisipasi dengan sistem pengelolaan yang lebih modern dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Selain ancaman kebakaran, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut juga berpotensi memicu pencemaran lingkungan, menurunkan kualitas udara, serta mengganggu kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TPA.

Sebagai mitra kerja Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Komisi C DPRD Kota Depok meminta pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyebab kebakaran sekaligus memperkuat langkah mitigasi.

Menurutnya, sistem pengamanan di TPA harus diperkuat agar mampu mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

“Komisi C DPRD Kota Depok meminta DLHK melakukan evaluasi menyeluruh atas penyebab kebakaran, memperkuat sistem deteksi dini, memperbanyak zona pengamanan, serta memastikan prosedur mitigasi kebakaran berjalan secara berkala dan terukur,” tegasnya.

Ia menilai langkah-langkah pencegahan jauh lebih penting dibandingkan hanya mengandalkan penanganan saat kebakaran sudah terjadi.

Lebih jauh lagi, HBS menilai kebakaran TPA Cipayung menjadi bukti bahwa Kota Depok harus segera beralih dari pola pengelolaan sampah konvensional yang hanya mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Menurutnya, solusi jangka panjang harus dimulai dari pengurangan sampah sejak dari sumbernya, memperkuat Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), mengembangkan bank sampah, hingga memanfaatkan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern.

Kita harus bergerak menuju pengurangan sampah dari sumbernya, memperkuat TPS3R, bank sampah, serta teknologi pengolahan yang mampu mengurangi ketergantungan pada TPA,” katanya.

Ia menilai transformasi sistem pengelolaan sampah harus menjadi prioritas agar kapasitas TPA tidak terus terbebani setiap tahun.

Api Padam, Masalah Belum Selesai

HBS mengingatkan bahwa padamnya api bukan berarti persoalan telah berakhir. Menurutnya, selama volume sampah terus meningkat tanpa diimbangi sistem pengolahan yang memadai, ancaman kebakaran akan terus berulang.

“Kebakaran TPA Cipayung semalam memang berhasil dipadamkan, tapi jangan sampai api yang padam membuat kita lupa bahwa persoalan utamanya masih menyala,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan beban sampah mencapai sekitar 1.300 ton per hari serta timbunan yang berjumlah sekitar 2 juta ton, Kota Depok masih menghadapi risiko tinggi terhadap kebakaran, pencemaran lingkungan, dan gangguan kesehatan masyarakat.

“Selama timbunan sampah terus meningkat dan kapasitas TPA semakin meningkat, potensi kebakaran, pencemaran lingkungan, dan gangguan kesehatan masyarakat akan terus mengintai,” kata HBS.

Oleh karena itu, ia berharap Pemerintah Kota Depok segera mempercepat implementasi berbagai program pengolahan sampah yang berkelanjutan agar status darurat sampah yang selama ini melekat di Kota Depok dapat segera teratasi.

“Kota Depok membutuhkan solusi persampahan yang lebih serius, lebih cepat, dan lebih berkelanjutan,” tutupnya.**

Sumber: https://depok.voa.co.id/berita/3737/kebakaran-tpa-cipayung-jadi-alarm-darurat-sampah-depok-hbs-jangan-padam-bersama-apinya/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *